Wednesday, April 20, 2016

Masih Tentang Hujan

Sudah hampir jam 7 pagi.  Hujan yang turun sejak sepertiga malam tadi belum juga reda.
Adik perempuanku bersama suaminya masih menunggu jemputan Gojek yang belum kunjung datang.  Sementara aku masih asik di kamar menulis postingan ini.

Betapa bersyukurnya aku, sudah 3 tahun lebih tidak perlu lagi menunggu hujan reda untuk pergi ke kantor.  


Tidak perlu menunggu ojek, bajaj atau apapun untuk mengantarkan aku dari rumah ke terminal Blok M.  Juga tidak perlu lagi menunggu bis di terminal Blok M untuk melanjutkan perjalananku ke kantorku yang megah di kawasan Karawaci.
Alhamdulillah.... Sejuknya udara dan hujan pagi ini masih bisa aku nikmati dari balik jendela kamarku yang aku buka lebar-lebar.  Semilir angin yang masuk dan bau khas tanah yang tersiram air hujan masih tercium semerbak di kamar ini.  Masya Allah....indah sekali...

Aku belum mandi, dan tidak perlu takut terlambat masuk kantor.  Tidak perlu takut uang transportku dipotong jikalau finger scan absensiku terlewat barang semenit dari jam masuk yang ditentukan perusahaanku.

Yah....masa-masa itu selalu ku ingat.  Baju basah terkena hujan dalam perjalanan dari rumah ke terminal Blok M, menahan pipis dan kedinginan dalam patas AC, berebut ojek dengan penumpang yang lain agar cepat sampai di gedung kantor, melewati pemeriksaan petugas security, berlarian menuju lift supaya bisa segera sampai ke lantai 7, antri bersama karyawan yang lain menunggu giliran  meletakkan jempol tangan kananku ke mesin absensi finger scan.  Belum lagi kalau finger scan gagal membaca, sehingga harus berulang kali meletakkan jempol di mesin itu, sampai akhirnya berhasil di baca tapi apa daya waktu masuk sudah lewat satu menit dan hanguslah uang transport hari ini. Hhhhhh.....nasiiiib....nasiiiiiib....!!!!!

Sekarang, tidak ada lagi adegan-adegan itu.  Meski kadang kurindukan.  Yah...tidak perlu lagi angkutan umum ataupun mesin abseni.  Sekarang aku hanya butuh 2 menit untuk masuk ke kantorku.  Karena kantorku yang sekarang adalah dapur rumahku, tempat mengolah makanan yang akan aku jual di cafetaria kecilku yang aku bangun di teras rumahku yang aku buka setiap hari Senin sampai Sabtu jam 10 pagi hingga jam 5 sore.

Sekarang, aku bukan lagi karyawan ataupun sekretaris Kepala divisi di kantorku yang dulu. Sekarang, aku adalah Bidadari Dapur yang memproduksi karya tanganku di dapur rumahku sebagai hobi, pekerjaan, sekaligus mata pencarianku yang baru.



Hujan di Sepertiga Malam

Gemecik suara hujan membangunkan aku.  Waktu menunjukkan pukul 02.26, empat menit lebih cepat dari alarm wake up call yang aku setting di HP kesayangan.
Teringat salah satu Hadits yang mengatakan do'a dikala hujan tidak akan tertolak, pasti akan dikabulkan.  Meskipun aku tidak akan tahu kapan Allah akan mengabulkan doaku. 

Segera ku bangun dari ranjangku, duduk bersila seraya menengadahkan tangan, membaca sholawat untuk Nabiku tersayang, Muhammad SAW dan memanjatkan do'a kepada Allah, Sang Pemilik Alam Semesta.  

Do'a ku selalu sama.  Satu hal yang sangat aku inginkan; Bertemu dengan Jodohku, menikah dengannya, membangun keluarga Sakinah, Mawaddah, Warohmah....
Ku aminkan doaku dan berharap seluruh alam mendengar dan ikut mengaminkan, agar Allah segera mewujudkan apa yang kupinta.

Aku keluar dari kamarku, turun menuju toliet, membasuh muka dengan berwudhu.  Ku bentangkan sajaddah dan melanjutkan permohonanku lewat tahadjud.  Betapa nikmat karuniaNya, menurunkan hujan di sepertiga malam, waktu mustajab untuk meminta apapun dariNya.  Semoga sujudku ini engkau terima dan doaku segera engkau kabulkan.  Meski entah kapan, dimana, dan bagaimana cara yang akan kau hadirkan untuk menjawab semua permohonanku.